[FF] Problema (Oneshoot)

problema

PROBLEMA

Park Jimin (BTS) | Kim Yuna (The Ark) | PG | Life | Ficlet |

Happy reading. Taste the emotion,feel the imagination 😀

.

.

[Problema]

.

.

Jimin mengedipkan matanya beberapa kali, seolah hal itu bisa membantunya mencerna kata yang terucap dari bibir Yuna. Mungkin saja dia salah dengar. Mungkin saja Yuna salah ucap.

Atau mungkin memang apa yang didengarnya benar adanya.

“Maksudmu cerai itu ‘cerai’? Berpisah?” tanya Jimin masih tak memercayai pendengarannya. Saking kagetnya pemuda itu bahkan tak sadar tangannya yang memegang sumpit kini menggantung di udara. Membuat tetes- tetes kuah mie menodai meja di hadapnya.

Yuna mengangguk santai, seolah mereka sedang membicarakan skor C di kelas sastra.  “Entahlah. Mungkin ini disebabkan sinar terik mentari musim panas.” Menggunakan sumpit, Yuna menusuk- nusuk mangkuk mie instan berbahan styrofoam. Terang saja hal itu menyebabkan lubang di beberapa bagian, dan menambah noda di meja akibat percikan kuah mie. “Aku tak paham jalan pikiran orang dewasa. Terkadang mereka lebih kekanakan dari bocah TK.”

Jimin memandang Yuna lurus- lurus. Sengaja dia mengabaikan mie instan miliknya, hanya untuk memerhatikan kondisi Kim Yuna. Gadis ber- hoodie hitam itu masih sibuk menusuk- nusuk mangkuk mie memakai sumpit, usaha untuk sedikit melampiaskan emosinya.

Sedari tadi Yuna memang tampak begitu santai. Namun Jimin paham kalau jauh di dalam dirinya, Yuna mengalami pendarahan hebat. Hanya saja gadis itu sudah terlalu mahir menyembunyikan perasaan.

Kemampuan yang sukses membuat orang di sekitar Yuna kebingungan mengartikan kediaman gadis itu.

“Makanlah miemu, Park.” Jleb. Jleb. Kembali Yuna menusuk- nusuk mangkuk mie yang kini nyaris tak berbentuk. Sejurus kemudian, gadis itu melancarkan tatapan tajam pada Jimin. “Apa yang kaupikirkan?”

Jimin berkedip lantas mengendikkan bahu. “Aku bingung, kaget, tak percaya, terkejut bukan main,” akunya jujur.

“Kaget dan terkejut itu sinonim, Park.” Yuna memutar bola matanya kesal. “Sudahlah jangan dipikir terlalu serius. Ini bukan soal matematika gubahan Mr. Jung. Kau takkan mendapatkan A+ karena hal ini.”

Yuna bangkit berdiri, merapikan hoodie seraya mengenakan tudung hitam menutupi kuncir kudanya. Sebentuk lambaian diarahkannya pada Jimin, kemudian gadis itu berlalu menuju trotoar yang dipenuhi pejalan kaki. Dalam beberapa detik, Yuna sudah berbaur dengan keramaian Seoul di malam hari.

Ibuku ingin bercerai dengan ayah. Entahlah. Dia bilang ayah keterlaluan dan membuatnya muak.

Kata- kata itu berrotasi tanpa henti dalam kepala Jimin, begitu pula ekspresi hancur Kim Yuna yang tersembunyi dengan apik di balik wajah tenangnya.

Ah… Jimin takkan bisa tidur malam ini.

.

[Problema]

.

Esok harinya di kelas, Jimin terperangah melihat Yuna yang memotong pendek rambutnya. Tak ada lagi rambut panjang sepunggung, yang ada hanya Yuna dengan rambut model bob setelinga. Topi bisbol menaungi kepalanya, menutupi sebagian wajahnya dari pandangan mata. Sebuah lolipop dalam kuluman, menandakan bahwa gadis itu enggan diganggu oleh apa pun dan siapa pun.

“Berhenti memandangiku.” ucap Yuna sembari memandangi lapangan melalui jendela yang terbuka. Semilir angin menerbangkan beberapa helai rambut gadis itu.

Krak. Krak. Yuna mengunyah permen lolipopnya, kemudian membuang batang lolipop ke luar jendela.

Jimin meletakkan tasnya sembarangan di atas meja tepat di depan bangku Yuna. Tak membutuhkan waktu lama, pemuda itu mendudukkan dirinya di depan Yuna. Sebelah tangan Jimin merogoh saku celana, mengeluarkan beberapa bungkus permen karet rasa anggur, kemudian meletakkan permen- permen itu di meja Yuna.

“Mereka bertengkar lagi kemarin. Hanya karena kimchi buatan ibu kurang asin, masalahnya jadi merembet ke mana- mana. Bangsat.” Masih dengan memandangi lapangan, Yuna melanjutkan berujar dengan lirih. “Entahlah. Aku sudah lelah menghadapi ini semua.”

Jimin menangkap getaran dalam suara Yuna. Sepertinya tangis gadis itu hendak pecah. Namun bukan Yuna namanya kalau dia tak punya pengendalian diri sehebat pertapa.

Tak tahu harus menyahut seperti apa, Jimin hanya mengulurkan tangannya. Diberikannya genggaman lembut namun kuat pada tangan kiri Yuna yang tergolek di meja. Setidaknya Jimin ingin menyalurkan sedikit kekuatan pada kawannya semenjak SD itu.

“Apa yang bisa kubantu,Yuna-ya?” Jimin memutar- mutar ibu jarinya di atas punggung tangan Yuna. Sesekali pemuda itu berganti menepuk- nepuk punggung tangan Yuna layaknya seorang kakak. “Aku… jujur saja aku tak tahu harus berbuat apa kalau jadi kau. Aku ingin membantumu, namun aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Maka dari itu, tolong katakan saja kalau kau membutuhkan bantuan,”

Seketika itu senyum tipis Yuna terukir. Kini pandangan gadis itu beralih pada Jimin. “Dengarkan ceritaku saja sudah cukup, Park. Aku membutuhkan sepasang telinga untuk mendengar dongengku.” Dalam sekali gerak, Yuna meraih dua bungkus permen karet, membukanya, kemudian mengonsumsinya sekaligus. “Lain kali belilah permen karet rasa jeruk. Aku benci anggur.”

Jimin tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Meskipun enggan, akhirnya Jimin melepaskan genggaman tangannya pada tangan Yuna. Pemuda itu lantas berbalik, membuka tasnya dan mengeluarkan sketchbook ukuran A4 yang tak luput dibawanya ke mana pun. “Kemarin aku membuat typography saat terserang insomnia. Mau lihat?”

Tanpa menunggu persetujuan Yuna, Jimin membolak- balik sketchbook– nya. Gerakannya terhenti saat menemukan lembar yang dimaksud. “Lihatlah. Baja butuh ditempa kalau ingin menjadi pedang yang tajam dan kuat.

Yuna membaca deret kalimat itu berulang kali. Tak menyangka kalau seorang Park Jimin- lah yang merangkainya. Yeah, Park Jimin yang dulu sering dijadikan bahan keisengan sampai mereka kelas satu SMP. Park Jimin yang suka sekali menambahkan mayones di atas nasinya. Park Jimin si aneh yang berjuang keras demi otot yang menonjol di balik permukaan kulit.

“Tulisanmu keren, Jimin- ah.” puji Yuna tulus. Gadis itu pun melepas topi bisbolnya, meletakkannya di atas meja. Setelah itu, tangannya terulur, mengambil alih sketchbook itu dari tangan Jimin. “Aku sampai berpikir kalau kau mengambil ini dari internet, mengeditnya sehingga mirip goresan pensil, lantas mencetaknya pada lembaran sketchbook.”

Jimin tersenyum bangga sembari menaikturunkan kedua alisnya. Pemuda itu lantas mengambil kembali sketchbook– nya, menyobek lembaran tadi secara hati- hati. Tangannya lantas merogoh ke dalam tas, mengeluarkan sebotol hairspray. Tanpa ragu Jimin menyemprot seluruh permukaan kertas gambar itu menggunakan hairspray, meniup- niupnya sesaat, sebelum akhirnya menyerahkan kertas itu kepada Yuna.

Sebuah trik sederhana untuk mengawetkan gambar yang terbuat dari pensil.

“Tempel di kamarmu. Jarang- jarang ‘kan kau melihatku sekeren ini.”

Yuna tertular senyum Jimin. Ucapan terima kasih dilayangkannya pada pemuda Park sesaat setelah kertas itu berada di tangannya. Diamatinya tulisan indah di atas kertas itu, sebelum akhirnya memasukkan kertas tersebut ke dalam map plastik.

Pandangan Yuna kembali diarahkan ke luar jendela. Matanya setengah menyipit saat mendongak memandang angkasa. Tanpa dinyana, sesaat kemudian pertahanan Yuna jebol. Air mata gadis itu menetes dan suara isaknya mulai terdengar.

Jelas saja hal itu membuat Jimin terkejut. Namun Jimin berhasil menguasai keterkejutannya. Tak menunggu lama, dirinya memakaikan topi bisbol ke kepala Yuna, kemudian menarik gadis itu agar berdiri. Meski merasa kalut, Jimin mencoba untuk memasang tampang santai sembari merangkul leher Yuna. Memastikan mereka berdua tak menarik perhatian kawan- kawan sekelas.

“Hei, mau ke mana kalian? Setelah ini pelajaran Mr. Jung dimulai.” seru Kim Taehyung yang berada di baris depan. Jabatannya sebagai ketua kelas membuat pemuda itu cerewet sekali saat mendapati kawan sekelasnya bertindak yang aneh- aneh.

“Yuna kelaparan! Dia harus makan agar bisa fokus mengerjakan integral!” Jimin berteriak sambil tak henti melangkahkan kaki. “Kau mau dia kalap di kelas, heh?”

Saat mereka sudah sampai di atap gedung SMA, Jimin melepaskan rangkulannya  kemudian mendudukkan Yuna di sebuah bangku panjang. Pemuda itu lantas berjongkok di depannya, melepas topi bisbol dari kepala gadis tersebut. Tak sedetik pun Jimin mengalihkan fokus dari Kim Yuna yang sedang menangis.

Keduanya tetap diam, membiarkan hembus semilir angin mengisi kekosongan.

“Bagaimana kalau mereka berdua bercerai? Bagaimana nasib adikku, Jimin- ah?” tanya Yuna dengan suara bergetar. Sesekali isak tangisnya membuat perkataan Yuna terpotong- potong. “Aku tak ingin hal itu terjadi…”

Jimin mengulurkan tangannya untuk mengelus puncak kepala Yuna. Tangan yang lain digunakannya untuk menghapus jejak air mata yang menganak sungai pada wajah gadis itu. “Aku tak bisa memberi saran apa pun selain ini: memohonlah pada Sang Pencipta.”

Tangis Yuna kian keras, membelah angkasa dengan awannya yang berarak.

Refleks hal itu membuat Jimin menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk Yuna erat- erat. Jimin tak memedulikan kemeja seragamnya yang basah oleh air mata Yuna. Bahkan dia sama sekali tak  peduli kalau mendapat C untuk mata pelajaran matematika, karena ini merupakan kali ketiganya membolos.

Jimin mengelus- elus punggung Yuna, terkadang menepuk- nepuknya perlahan. Bibirnya membisikkan kata ‘Tak apa- apa. Keluarkan saja semuanya.’ berkali- kali seolah kata- kata itu merupakan bacaan tasbih.

Mereka tetap di situ, tak bergerak sama sekali dari posisi awal. Jam berlalu hingga akhirnya Yuna kelelahan menangis dan menyadari kalau dirinya sedang berada dalam pelukan Jimin. Segera saja Yuna menjauhkan dirinya seraya mengelap wajahnya secara kasar menggunakan punggung tangan.

“Sudah merasa lebih baik?” tanya Jimin. Segurat senyum tercetak di wajah pemuda itu saat dia mengulurkan sapu tangan pada Yuna. “Hahaha! Lihatlah hidungmu, Kim! Merahnya mengingatkanku pada tomat busuk!”

Mendengar hal itu, Yuna melayangkan tinjunya ke lengan Jimin. Isakannya sesekali masih terdengar, namun sorot sedih di matanya perlahan memudar. “Sialan kau, Park.” Sengaja Yuna mengeluarkan suara- suara aneh saat membersihkan ingus untuk membuat Jimin merasa jijik. Sejurus kemudian, Yuna mengibas- ngibaskan sapu tangan dengan jejak ingus ke depan wajah Jimin.

“Hentikan itu, Kim Yuna!” Jimin berseru sembari berjengit menjauh. Sebuah gestur yang malah membuat Yuna semakin giat menjahilinya. “Hei! Kubilang hentikan!”

Jadi, seharian itu dihabiskan oleh Jimin dan Yuna untuk membolos. Mereka dengan senang hati mengabaikan Matematika, Olahraga, Bahasa Inggris, serta Kimia. Kedua siswa itu memilih mengambil tas kemudian menyelinap keluar untuk menyantap tteokpoki pedas di kedai langganan.

.

[Problema]

.

“Memang sudah seharusnya aku melakukan hal itu sedari dulu!”

Pekikan wanita berkacamata itu berhasil membuat Eunjoo, adik Yuna, terkesiap lantas menggigit bibir bawah berusaha menahan tangis.

Yuna buru- buru menuruni tangga menuju lantai satu. Sedari tadi dia berada di kamar untuk merapikan perabot, mengingat ini hari Sabtu. Dia mengira hari ini akan baik- baik saja, melihat ayah dan ibunya begitu tenang saat sarapan tadi.

Sayangnya prediksinya melenceng jauh.

Yuna menghampiri sang adik. Betapa dia terenyuh melihat Eunjoo meringkuk di dekat meja makan, dengan kedua tangan menutup telinga. Hal itu membuat Yuna tak lagi menghiraukan teriakan yang terlontar saling bersahutan dari kedua orang tuanya. Fokusnya saat ini tertumbuk pada sosok Eunjoo. Tanpa menunggu lama, Yuna menggendong Eunjoo meskipun kepayahan karena Eunjoo bertambah besar.

Yuna melangkah lebar- lebar, membuka pintu, kemudian membopong adiknya menuju SD yang tak jauh dari rumah.

“Tenanglah, Sayang. Sssh…” Yuna mencoba menghentikan tangis Eunjoo. “Semuanya baik- baik saja.”

Eunjoo tak menggubris, malah menangis makin keras. Tak tahu harus berbuat apa, Yuna pun menghubungi Jimin. Adiknya ini selalu luluh dan patuh pada sosok berperut six packs itu.

“Aku butuh bantuanmu, Jimin- ah. Saat ini aku ada di SD kita. Bisakah kau kemari?” Yuna berujar nyaris tanpa jeda begitu sambungan telepon diangkat.

Di seberang sana, terdengar suara orang tersedak, dilanjutkan dengan derap langkah kaki. Detik  berikutnya terdengar erangan Jimin sebelum akhirnya Jimin berkata, “Oke. Aku sedang menuju ke sana. Tunggu aku.”

.

[Problema]

.

Jimin memandangi Eunjoo yang sibuk berlarian mengejar daun yang terhembus angin. Usahanya untuk menenangkan adik Yuna itu berbuah manis. Usai membuatnya  kelelahan karena minta digendong keliling lapangan plus diberi ciuman di pipi oleh Jimin, pada akhirnya Eunjoo berhenti menangis.

“Mereka sungguh tak punya otak.” Yuna melemparkan batu dengan dengan energi ekstra, lengkap dengan kilat amarah di matanya. “Padahal ada adikku berada di antara mereka. Kenapa mereka tak bertengkar di neraka saja sih?!”

Jimin menelengkan kepalanya ke arah Yuna namun menolak berkomentar. Sebagai gantinya, pemuda itu mengelus- elus lengan Yuna. Berusaha sedikit meredakan emosi gadis tersebut.

“Aku benci kondisi ini, Jimin. Di satu sisi, aku berharap mereka tetap bersatu agar adikku tak menjadi korban broken home. Namun di sisi lain, aku berharap mereka berpisah saja, agar tak memaksakan ikatan yang menyakitkan begini.” Helaan napas berat terdengar beberapa detik setelah itu. Yuna menatap kanan kiri, tampak begitu kalut dan goyah. “Aku benci melihat mereka berseteru dan memaki tanpa henti.” Sebentuk getar terdengar dari suara Yuna. Gadis itu berkedip beberapa kali untuk mencegah air matanya merembes. “Aku benci melihat mereka begini.” sambungnya dengan suara lirih dan mata berkaca- kaca.

Tangis menggantikan bibir Yuna yang tak lagi bersuara. Tetes demi tetes cairan bening melintas di kedua pipi gadis itu. Sebagai kawan yang menemaninya sejak zaman ingusan, Jimin tentu mersa tak tega. Segera saja pemuda Park itu merangkul Yuna menggunakan satu tangan, memosisikan kepala Yuna di dadanya. Sementara itu, tangannya yang lain mengelus kepala Yuna.

Apa lagi yang bisa dilakukannya saat ini?

“Yuna- ya…” Jimin menyelipkan helai rambut Yuna di belakang telinga, lantas ibu jarinya mengusap jejak air mata di pipi gadis itu. “Ssshh… tidak apa- apa. Curahkan saja semuanya, aku ada di sini bersamamu.”

Napas Yuna terasa sesak. Sebongkah beban mengimpit dadanya dan membuatnya tak mampu berkata- kata. Kedua tangannya mencengkeram kaos Jimin, terkadang memukul dada pemuda itu beberapa kali. “Aku benci kondisi seperti ini, Jimin. Aku benci saat aku tak mampu berbuat apa- apa. Aku benci…”

Jimin tak menyahut. Tangannya sibuk menepuk- nepuk punggung Yuna dan menghapus air matanya.

Seorang Park Jimin telah berubah menjadi pemuda gagah berani sejak kelas 2 SMP. Dia tak lagi menangis saat menemui kesulitan menghadangnya. Akan tetapi, melihat Yuna menjadi sebegini rapuh, mau tak mau Jimin pun merasakan kesedihan yang mendalam.

Sebagian dari diri Jimin ingin ikut menangis, berbagi kesedihan dengan Yuna. Akan tetapi, sisi yang lain menahannya berbuat demikian. Saat ini Jimin harus bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan. Kini tiba saatnya bagi Jimin untuk melindungi Yuna, bukan dilindungi oleh Yuna seperti saat mereka kecil dahulu.

“Kau pernah membicarakan hal ini dengan orang tuamu?” tanya Jimin beberapa waktu setelah Yuna berhenti menangis. Gadis itu kembali ke posisi semula, duduk beberapa puluh sentimeter dari tempatnya.

Yuna menggeleng. “Aku pernah membentak mereka karena beradu mulut hanya karena uang studi wisataku.”

Gadis itu pun teringat kejadian sebulan yang lalu. Sekolahnya hendak melakukan studi wisata ke sius bersejarah di daerah Gwangju kala itu. Setiap siswa dihimbau membayar kontribusi untuk mengikuti kegiatan tersebut. Yuna membicarakan hal tersebut pada ibunya, namun hal itu mlah membuat ayah dan ibunya saling menyalahkan.

“Entahlah.” Yuna menghembuskan napas berat. Pandangannya mengekori Eunjoo yang kini berusaha mengejar kucing yang kebetulan lewat. “Aku lelah. Aku bingung.”

Tanpa sadar Jimin ikut menghela napas. Dia juga benci kondisi ini. Jimin benci sat merasa tak mampu melakukan apa pun untuk membantu Yuna.

Pandangan Jimin beralih pada kaosnya yang kini dihiasi bercak basah akibat tangis Yuna. Lama, Jimin memandangi bercak itu. Selanjutnya pemuda itu mendongak menatap langit yang mulai dihiasi warna jingga.

“Hei, tak terasa kita sudah dewasa, ya?”

Yuna menggumam mengiyakan. Gadis itu ikut- ikutan memandang langit. Teringat saat dulu mereka berdua masih SD. Jimin dan Yuna akan menjadi siswa yang terakhir pulang. Mereka akan duduk- duduk di sini, berkhayal menjadi astronot atau penyanyi rap sembari menanti matahari tergelincir di ufuk barat.

“Kau tahu? Menurutku hidup itu seperti bermain game.” Jimin menyempatkan memberikan pandangan lembut pada Yuna, sebelum kembali memandangi langit. “Saat di level- level awal, kau akan dengan mudah melalui ujian menuju level berikutnya. Hari demi hari, seiring meningkatnya levelmu, ujianmu akan semakin berat.” Jimin menjulurkan tangan kirinya ke angkasa, seolah dia bisa meraih satu awan di atas sana. “Semakin dewasa seseorang, semakin sulit pula ujiannya untu naik ke derajat yang lebih tinggi.”

Kim Yuna membisu. Masih sibuk menyimak sembari menata perasaannya.

“Memang aku bukan siapa- siapa. Namun aku yakin, kau bisa melalui semua ini, Kim Yuna.” Pandangan Jimin tak lagi terpaku pada langit. Pemuda itu menyorotkan tatapan yakin pada Yuna. “Kau kuat. Kau pasti mampu melalui ujian ini.”

Senyum Jimin merekah, menjadikan matanya hanya tampak segaris. Energi positifnya berhasil membuat Yuna turut mengulas simpul manis. Meskipun hanya senyum lemah disertai mata yang sembab.

Tak bisa dipungkiri, baik Jimin maupun Yuna takkan mampu memprediksi apa yang akan terjadi pada mereka. Dua bocah SMA itu hanya bisa menghadapi segala bentuk masalah yang menghampiri. Dan Jimin berjanji takkan pernah sekalipun melepaskan tangan Yuna, untuk memberi sebentuk dukungan pada sahabat karibnya itu.

“Semangat, dong, Kim!”

.

.

[Problema]

.

.

Thanks for reading. Tanggapan dinanti 😀

 

 

 

Advertisements

Share your comments here :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s