#Crossover Poject- A Night Talk (Oneshoot)

a-night-talk

A Night Talk

| Kim Jongdae (EXO) | Kuchiki Rukia (Bleach) | PG |

| Life, Friendship | Ficlet |

Happy reading. Taste the emotion, feel the imagination 😀

.

.

“Musim panas sukses membuat Rukia hilang kewarasan.”

.

.

[A Night Talk]

.

.

“Ke mana manusia pergi usai kematian?”

Jongdae menjentikkan abu rokoknya ke depan. Sepasang manik matanya terpaku menatap beberapa partikel kelabu itu berhamburan ke udara, sementara sisanya berlutut pada gravitasi bumi. Diliriknya Rukia yang memandang tak tentu arah. Rambut gelap gadis itu terikat tinggi, sementara kipas bergambar Keroro tak henti mengarahkan angin ke wajah.

Musim panas sukses membuat Rukia hilang kewarasan.

“Ehm,” tak siap dengan ajuan tanya Rukia, Jongdae mengambil jeda untuk kembali mengisi paru dengan nikotin. “Itu…”

Berdua di teras rumah Rukia, mereka pun berbagi bisu.

Hanya suara gemerincing lonceng angin yang tergantung di langit- langit yang dengan riangnya memecah keheningan. Terima kasih kepada Byakuya, kakak Rukia, yang membawa suasana Jepang klasik pada rumah bergaya panggung ini. Setidaknya suara lonceng itu bisa mengisi kekosongan di antara dua insan tersebut.

Jongdae menyangga badan menggunakan dua tangan yang diposisikan di samping tubuh. Bisa dia rasakan dingin permukaan tatami di bawah telapak tangannya. Hembusan napas Jongdae terdengar tak lama kemudian. Mencoba mencari ilham, pecinta Vespa itu kembali mengisap batang rokok yang ada dalam jepitan jemari kiri.

Kuchiki Rukia bisa begitu tak terduga.

Keseharian Rukia dihabiskan dengan lagu- lagu cinta yang diputar berulang hingga kata bosan menggelayut manja dalam pikiran. Sepenuh jiwa gadis itu akan mendendangkan lagu tersebut, seoolah dirinya memahami betul maknanya.

Kendati demikian, akan datang suatu masa yang menjadikan Rukia layaknya seorang petapa yang mendapatkan visi. Atau mahasiswa jurusan Filosofi, mungkin?

Sekali waktu dia akan bertanya, ‘Kalau sapi dikawinsilangkan dengan Platipus, bisakah hewan itu bertelur dan melahirkan?’. Pada saat yang lainnya sibuk memasukkan data hasil pengujian tanah, dia akan bertanya, ‘Siapa yang akan menangis di pemakamanku nanti ya?’.

Masih ada segudang pertanyaan yang tak disangka bisa ditanyakan oleh Rukia. Saking banyaknya, Jongdae sampai lupa. Otaknya yang sebesar biji kacang hanya mampu mengingat reaksinya kala Rukia berubah menjadi demikian. Pertama, Jongdae akan menganga lebar, mengambil jeda lama untuk mencari ilham dari hisapan rokok, kemudian menjawab dengan keraguan dan keyakinan yang sama besarnya. Jika biasanya Jongdae bisa ceplas ceplos, bahkan mengumpat pada Rukia, maka saat seperti ini menjadi pengecualian.

Kim Jongdae akan serius memikirkan tiap patah kata yang berhamburan dari mulutnya.

Sebagai seorang engineer, prinsip efektif dan efisien harus selalu kalian pegang. Begitu kata dosen Gambar Teknik.

“Beberapa kepercayaan mengenal konsepsi surga dan neraka.” hisapan terakhir dilakukan Jongdae dengan khidmat sebelum akhirnya meletakkan putung rokok itu ke dalam asbak. Kini pemuda itu mencari- cari mata Rukia, memastikan sang gadis menyimak. “Ada juga yang berkata kalau usai meninggal, kita akan bereinkarnasi. Jadi apa? Tergantung perbuatanmu dalam kehidupan sebelumnya.”

Tangan Rukia berhenti menggerakkan kipasnya. Mengikuti Jongdae, dia menyangga badan dengan kedua lengan. “Apa ada studi ilmiah mengenai hal ini ya? Jaman sekarang kan manusia selalu sok ilmiah. Sedikit- sedikit berkata ‘berdasarkan riset…’ bla bla bla.”

“Kau pasti habis membaca artikel sampah di Line lagi.” tembak Jongdae langsung. Pemuda itu mencondongkan badan ke arah Rukia, mendesak sang gadis untuk mengaku. “Sudah kubilang, manfaatkan Line- mu itu untuk menikmati 9gag saja.”

Rukia melengos. Dengusan napasnya terdengar sewaktu dia membenarkan kucir rambutnya. “Tadi aku iseng, Jong. Niichan memintaku tetap di rumah karena ada kiriman kulkas pesanannya. I had nothing to do. That’s why I read that article.” Rukia mengerahkan tangan kanannya untuk meraih ponsel yang tergeletak di sisinya. Beberapa saat dihabiskannya untuk menggerakkan jempol di atas layar, sebelum akhirnya menyerahkan benda dengan kecerdasan buatan itu ke tangan Jongdae. “Mereka membuatku heran. Apa asyiknya membawa- bawa hasil riset untuk menentang dan menertawakan salah satu ajaran agama?”

Jongdae mendengarkan sembari membaca kata demi kata secara cepat. Pada akhirnya pemuda itu sampai pada kolom komentar. Bagaikan sepatu, berbagai macam komentar bertebaran di sana. Mulai dari spamming stiker, kubu ‘penertawa agama’ menyeret serta hasil riset, kubu pembela agama, dan kubu provokator.

Jongdae mendapati Rukia beberapa kali meninggalkan komentar di situ. “Kau kenapa ikut kegiatan pembodohan semacam ini, Ru?” kernyitan di kening membuat Jongdae tampak seperti dosen ketika sesi asistensi berlangsung. “Manfaatkan internetmu untuk hal lain. Lihatlah, konstruksi Cina berkembang pesat, Bro!”

Rukia mengendikkan bahu.

Sang pemuda hanya mampu menggelengkan kepala beberapa saat. Ingin sekali dia membakar sebatang rokok lagi. Namun apa daya, stok untuk hari ini sudah habis. “Kau percaya eksistensi Tuhan, Ru?”

Rukia mengangguk dengan segera.

“Namun sulit untuk menunjukkan keberadaanNya pada si penertawa agama?” Jongdae meraih sepotong apel dari atas nampan. Dia butuh asupan nutrisi agar motor otaknya mampu bekerja.

Kembali Rukia mengamini perkataan Jongdae. Merasakan tenggorokannya kering, gadis itu pun meraih minuman soda dalam botol berkuran besar. Tangannya dengan cekatan menuang minuman itu ke dalam gelas. Cairan rasa lemon itu ditenggaknya habis sebelum berujar, “Sering aku mencoba membawa perspektif lain dalam diskusi sampah itu, namun selalu mendapat respon buruk. Padahal dengan jumawa mengaku kalau mereka itu open minded. Heran.”

Kekehan Jongdae melebur bersama gemerincing lonceng di atas mereka. “Sudah tahu begitu masih saja kauladeni, Ru. Sekarang siapa yang bodoh di sini?”

“Kau.”

“Sialan.” kembali Jongdae terkekeh. Diacak- acaknya rambutnya yang sewarna tanah, sementara ia menaikkan satu kaki ke atas tatami. Membiarkan kaki yang lain menggantung, Jongdae meneruskan kata, “Mereka bergabung dalam satu wadah, untuk bertemu dengan orang- orang sepemikiran. Biarkan mereka tergelak sekarang, Ru. Karena percuma kalau kau mencoba mendebat di sana. Pada akhirnya akan ada satu hal yang menyadarkan mereka.”

Rukia bungkam. Kedua kakinya diposisikan bersila, menyerong menghadap Jongdae.

“Bagaimana alam semesta tercipta?” Jongdae ikut- ikutan menenggak soda.

“Teori Big Bang?”

“Dance… Wuuhuuu!” kedua tangan pemuda itu refleks terangkat ke udara sementara bibirnya menyerukan potongan lagu Big Bang yang berjudul Fantastic Baby. Wajahnya yang serupa beruk cacingan sukses membuat Rukia menganga, kemudian mengekspos ekspresi hendak muntah pada detik berikutnya.

Jongdae sadar kalau respon Rukia tak sesuai ekspektasinya dan  langsung menghentikan aksinya. Sebuah dehaman lolos dari tenggorokan, kemudian Jongdae berujar, “Ledakan ada karena ada kemampatan, iya ‘kan?”

Gadis Kuchiki di sisinya mengangguk. Raut penuh tanya menggantung di wajahnya.

“Kemampatan ada kalau ada berat jenis.” Tangan Jongdae kembali meraih sepotong apel. Sesaat dia menghentikan ucapannya saat merasakan ponselnya bergetar. Dengan cepat Jongdae membaca pesan dari Kyungsoo yang mengatakan kalau dia akan sampai di rumah Rukia beberapa menit lagi. “Ah… duo abnormal itu akhirnya sampai juga.”

“Benarkah? Sudah nyaris tiga jam semenjak mereka pergi dengan Joanne. Apa sesuatu telah terjadi pada mereka?”

Jongdae menggumam tak jelas sembari mengetik balasan. “Sampai mana kita tadi?”

“Berat jenis.” Rukia melongokkan kepala, mencoba melihat percakapan antara Jongdae dan Kyungsoo pada layar ponsel. Kekehannya meluncur bebas saat melihat begitu banyak umpatan dan ancaman yang diutarakan Jongdae. “Kau harus menyekolahkan mulutmu, Jong!”

The words was brought back to you. Jadi berat jenis takkan ada kalau tiada massa serta volume.”

Rukia mendapatkan pemahamannya. “Ada esensi yang menciptakan itu semua.”

“Hm. You’ve got my point.

Keduanya saling bertukar tatap dalam siraman cahaya lampu taman.

Pada saat seperti inilah Rukia merasa kalau Jongdae begitu dewasa. Abaikan Kim Jongdae tukang umpat yang hobi tidur di kelas Mekanika Teknik. Di luar itu semua, pemahaman Jongdae tentang dunia mampu membuat napasmu terhenti.

“Jong…”

“Hm?” Refleks Jongdae mencondongkan badannya, mencoba memperjelas pendengaran. Entah kenapa suara Rukia menjadi begitu lirih.

Bibir Rukia terbuka, namun taka da sepatah kata yang terucap.

“Berhenti di sana, Rakyat Jelata! Jauhkan tubuhmu dari adikku.”

Hampir saja Jongdae terjengkang. Dilayangkannya tatapan kesal pada sosok Byakuya yang mendadak muncul dari balik pintu geser. “Apaan sih?”

“Kau bisa kujerat dengan pasal pelecehan seksual, kejahatan terencana, dan    

              demi Tuhan, Bapak Jaksa! Aku tak melakukan apa pun pada adikmu yang mirip tapir ini!” Jongdae mengangkat kedua tangannya. Ingin sekali dia memutar bola mata, namun itu akan tampak sangat tidak sopan. Tapi, hei, sejak kapan dia peduli dengan segala macam tetek bengek tentang sopan santun?

“Kau     

              aku hanya ingin mengatakan kalau ada kotoran di hidung Jongdae, Niichan.” Kali ini perkataan Byakuya diinterupsi oleh Rukia. “Itu.”

Dari sudut mata, Jongdae melirik Rukia, kemudian mengikuti arah jemari gadis itu. Buru- buru dia menghembuskan napas keras sehingga kotoran itu terlontar keluar…. dan masuk ke gelas minuman Rukia.

“JONGDAE SIALAN!” pekik Rukia, bertepatan dengan pesan dari Kyungsoo yang masuk ke ponsel Jongdae.

Saatnya kabur.

Lompatan Jongdae berhasil mendaratkan pemuda itu di tanah. “Selamat malam Kuchiki- san, Rukia. Terima kasih atas jamuannya!”

Sejenak Jongdae membalikkan badan, memandang dua sosok di ambang rumah panggung itu, lalu melambaikan tangan.

.

.

[A Night Talk]

.

.

Ini berdasar pengalaman pribadi :v

#cumainfogapenting

Thaks for reading. Tanggapan Dinanti 😀

 

Advertisements

5 thoughts on “#Crossover Poject- A Night Talk (Oneshoot)

Share your comments here :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s